Cerita tentang perawatan gigi, bikin gak bisa tidur, lebih tepatnya bikin seorang dokter gigi kepikiran terus ama pasiennya. (Masalah giginya loh ya, bukan hatinya :D)
Pertama sekali kembali mengerjakan pekerjaan ini, aku langsung memikirkan yang nggak-nggak. Bayangin, selama 7 bulan vacum gak pernah megang pasien lagi. Tujuh bulan tanpa melatih jari dan tangan, nggak ngebayangin bakal gimana kakunya tangan ini. Pasti aku bakal ragu-ragu dan gak percaya sama diri sendiri. Pasti akan mulai tremor, keringat dingin dan kawan-kawannya yang lain.
Tapi itulah Tuhan kita, ketika kita mau taat (taat untuk bekerja setelah punya SIP, hehe), Dia bekerja sangat indah. Nggak disangka aku malah sangat senang mengerjakan pekerjaan ini lagi. Menanti kedatangan pasien-pasien selanjutnya. Antusias sekali ingin mengerjakan pasien lagi, lagi dan lagi. Nggak pedenya hilang, ragunya memudar. Awesome banget! Ternyata, aku begitu merindukannya. Merindukan pekerjaan ini. Thank God :)
Dulu, jaman waktu masih coass, kalau secara teori harusnya bisa dikerjakan, tapi karena faktor dari masing-masing individu punya keistimewaan, malah bikin operatornya (me.red) kebingungan dan gelisah, yang akhirnya pasien dipikiri melulu setiap kali kemanapun, setiap kali mengerjakan apapun. Bahkan bisa sampe bikin mood down banget sampe gak percaya diri mau ngerawat apapun ke pasien, hmm.....
Tapi sekarang, sesudah banyak makan asam garam pahitnya kehidupan (haha..nggak banyak lah.. kan belum tua juga :D ), aku sendiri mulai mampu cepat move on dari kesalahan yang kulakukan. Walau mood masih suka sangat terpengaruh, tapi pikiran udah mulai termanagemen dengan baik. Mikiri pasien itu ya saat di praktek atau di malam hari ketika mau tidur, selebihnya ya harus fokus juga sama apa yang bakal dikerjakan selanjutnya... Pasien yang satu tidak mempengaruhi mood untuk mengerjakan pasien lainnya. Sudah mulai bisa termanagemen dengan baik, hihi (ini karena sering berjumpa dengan orang-orang yang berbeda karakter, sehingga memaksaku untuk bisa memahami karakter masing-masing, i think :D). Tapi tetap sih lebih banyak pikiran tersita ama pasien, haha
Selama udah mulai praktek sebulan belakangan ini, banyak banget kasus
yang muncul seperti secara teori dahulu dipelajari tapi jadi berbeda
ketika mau mempraktekkan teori tersebut ke pasien yang semuanya bervariasi. Dan itu memicuku untuk terus meningkatkan kompetensi. Mulai download e-book dan scribd untuk bisa baca textbook tanpa harus bayar, hihi
Biasa fresh employee, duitnya masih cukup buat makan doang ,hahahaha
Walau bau kertas dan kenikmatan memegang buku itu tak tergantikan sekalipun dengan digital book, tapi apa daya harus hemat-hemat buat bekal nikah, wkwkwkwk (sekarang uda bisa mikiri nikah ya, haha)
Sebenarnya bukan mikiri buat nikah sih yang utama, tapi mikir kalok ternyata cari duit itu gak gampang, cari duit itu perlu kerja keras so nggak boleh boros-boros pakek duit, hihi (jadi selama ini ???!! *abaikan)
Biasa fresh employee, duitnya masih cukup buat makan doang ,hahahaha
Walau bau kertas dan kenikmatan memegang buku itu tak tergantikan sekalipun dengan digital book, tapi apa daya harus hemat-hemat buat bekal nikah, wkwkwkwk (sekarang uda bisa mikiri nikah ya, haha)
Sebenarnya bukan mikiri buat nikah sih yang utama, tapi mikir kalok ternyata cari duit itu gak gampang, cari duit itu perlu kerja keras so nggak boleh boros-boros pakek duit, hihi (jadi selama ini ???!! *abaikan)
Oke, balik lagi ke masalah kompetensi, aku baru aja beli tablet (pamer :p) sebenarnya karena ingin meningkatkan kompetensiku lagi *alasan, yang sekaligus buat memudahkanku untuk share banyak hal di blog ini (hihi) ,jadi bukan buat gaya-gayaan ataupun ngikutin trend (ini serius!)
Seperti yang saya bilang tadi, sebulan berpraktek banyak sekali kasus yang harus dipelajari ulang, banyak sekali kasus yang terkadang nggak sama kayak dulu waktu belajar dikampus. Sehingga mau nggak mau dokter giginya harus mengupgrade ilmu setiap hari.
Dan tablet ini sangat membantu. Walau aku sendiri suka malas sebenarnya lama-lama di depan monitor beginian. Oke, harus mulai dibiasakan ,,,,
Seperti yang saya bilang tadi, sebulan berpraktek banyak sekali kasus yang harus dipelajari ulang, banyak sekali kasus yang terkadang nggak sama kayak dulu waktu belajar dikampus. Sehingga mau nggak mau dokter giginya harus mengupgrade ilmu setiap hari.
Dan tablet ini sangat membantu. Walau aku sendiri suka malas sebenarnya lama-lama di depan monitor beginian. Oke, harus mulai dibiasakan ,,,,
Kemaren ada beberapa kasus yang menyita pikiran, setiap malam nggak bisa tidur. Terus browsing-browsing, terus cari-cari tau kemana-mana, tanya senior sana-sini, baca-baca buku lagi. Tapi toh aku nggak puas. Aku fokus untuk terus mencari...
Prinsip saya: pasien harus tersenyum lebar ketika keluar dari ruangan saya.
Jadi karena fokusnya demikian, aku terus mencari tahu hal yang terbaik yang bisa kuberikan kepada pasien. Aku terus belajar.
Prinsip saya: pasien harus tersenyum lebar ketika keluar dari ruangan saya.
Jadi karena fokusnya demikian, aku terus mencari tahu hal yang terbaik yang bisa kuberikan kepada pasien. Aku terus belajar.
Kamis lalu, aku persiapan untuk KTB PMdK hari jumatnya. Judulnya: dokter yang berkompeten. (Wah,,,cocok sekali dengan hal-hal yang belakangan ini kualami).
Kami belajar dari Daniel 6. Daniel yang begitu berintegritas juga merupakan pribadi yang berkompetensi. Sampe ada kalimat yang menyebutkan "Tidak ada satupun cela yang dapat ditemukan dari hasil pekerjaan Daniel", bisa kita bayangkan betapa sempurnanya pekerjaan Daniel, sampe sedikit cela ajapun, gak ada yang bisa menemukan. Lantas kalau hal itu diuji ke kita gimana ya ? hmm...
Kami belajar dari Daniel 6. Daniel yang begitu berintegritas juga merupakan pribadi yang berkompetensi. Sampe ada kalimat yang menyebutkan "Tidak ada satupun cela yang dapat ditemukan dari hasil pekerjaan Daniel", bisa kita bayangkan betapa sempurnanya pekerjaan Daniel, sampe sedikit cela ajapun, gak ada yang bisa menemukan. Lantas kalau hal itu diuji ke kita gimana ya ? hmm...
apakah pengawas yang mengawasi kita akan sulit juga menemukan kesalahan kita atau malah dengan sangat mudah ?? (Pertanyaan ini harusnya bisa bikin kita jd termotivasi lagi untuk terus mau belajar :D)
Namun, diakhir pertanyaan-pertanyaan yang disuguhkan, ada pertanyaan begini "apakah kompetensi tersebut tidak terlepas dari karunia Allah ?"
Namun, diakhir pertanyaan-pertanyaan yang disuguhkan, ada pertanyaan begini "apakah kompetensi tersebut tidak terlepas dari karunia Allah ?"
lalu ada 3 perikop ayat Alkitab yang menerangkan tentang hal ini. (Daniel 1:17, 2Korintus 3:4-6, Matius 25:14-30)
dan aku mulai tersentak!
selama terus meningkatkan kompetensi, aku terus meminta kepada Tuhan untuk memampukanku memberikan yang terbaik kepada pasien... aku terus belajar dan juga terus berdoa.
Seperti ketika belajar di kampus dulu, secara teorinya sih aku tahu dan mengerti namun ketika aku mulai mempraktekkannya ke pasien, aku malah tidak menerapkan apa yang telah dipelajari. Demikian juga apa yang kualami. Aku tahu dan sangat tahu jika kompetensi itu dari Tuhan, tapi ketika diperhadapkan sama realitanya, sangat-sangat berbeda. yah karena itu tadi, karena gak fokus ke Tuhan, tapi malah fokus ke pasien. Aku mau pasien keluar dari ruangan dengan senyum lebar, tapi nggak sadar yang bisa buat demikian itu cuma Tuhan. Dan aku mulai terlupa akan hal yang penting itu.
Seperti ketika belajar di kampus dulu, secara teorinya sih aku tahu dan mengerti namun ketika aku mulai mempraktekkannya ke pasien, aku malah tidak menerapkan apa yang telah dipelajari. Demikian juga apa yang kualami. Aku tahu dan sangat tahu jika kompetensi itu dari Tuhan, tapi ketika diperhadapkan sama realitanya, sangat-sangat berbeda. yah karena itu tadi, karena gak fokus ke Tuhan, tapi malah fokus ke pasien. Aku mau pasien keluar dari ruangan dengan senyum lebar, tapi nggak sadar yang bisa buat demikian itu cuma Tuhan. Dan aku mulai terlupa akan hal yang penting itu.
Apa yang dimiliki setiap dokter saat ini yang bisa dibilang begitu kompeten di bidangnya, itu ya karena Allah lah yang menganugerahkan. Jadi, ketika akupun mau dibentuk Tuhan untuk bisa berkompeten di bidang yang Tuhan mau, pasti suatu saat hal itu memang akan terjadi untuk bisa kembali memuliakan Dia melalui profesiku. Dan cara-caranya Tuhan itu nggak hanya membuatku belajar meningkatkan kompetensi tetapi aku juga terus diajari untuk lebih mengenal Allah lagi. Semakin dekat padaNya.
Dengan berjalannya waktu-waktu yang kita nikmati ketika mengupgrade ilmu dan skill akan terasa sangat bermanfaat ketika kita melibatkan Allah itu sendiri di dalam setiap diskusi-diskusi medis yang kita pikirkan. Dan ketika kita fokus untuk menyenangkan Allah melalui profesi kita, pasien juga akan puas. Allah senang, kita senang, pasienpun senang :)
Dengan berjalannya waktu-waktu yang kita nikmati ketika mengupgrade ilmu dan skill akan terasa sangat bermanfaat ketika kita melibatkan Allah itu sendiri di dalam setiap diskusi-diskusi medis yang kita pikirkan. Dan ketika kita fokus untuk menyenangkan Allah melalui profesi kita, pasien juga akan puas. Allah senang, kita senang, pasienpun senang :)
Selamat terus meningkatkan kompetensi kita guys :)

07.16
haspeni