Ketika membaca judul artikel ini kira-kira yg terbesit apa ya?
Saya pertama sekali baca kalimat ini di sampul buku seorang dokter dan saya bingung dengan judul ini. 'Ini maksudnya apa?'
Judul ini kontradiksi sekali. Bagaimana mungkin rasa sakit itu, kita definisikan merupakan sebuah karunia. Bukankah rasa sakit itu menyedihkan dan karunia itu seperti sebuah hadiah atau anugerah? Yang ketika kita menerima karunia kita merasa begitu bahagia?
Kalimat ini sungguh sulit untuk bisa dimengerti. Ya.. Jika kita tidak mengalaminya sendiri.
Kira2 dua minggu yang lalu, saya membaca sebuah majalah medis 'Samaritan' dan dibalik sampul buku tersebut, saya sangat tertarik dengan kalimat tersebut. Saya ingin tahu apa dibalik judul seaneh itu.
Judul tersebut merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Paul Brand, seorang dokter ahli bedah yang concern kepada pasien penderita penyakit kusta.
Seperti yang kita ketahui bersama, para penderita kusta, yg diserang adalah saraf-sarafnya. Sehingga mereka tidak mampu merasakan sakit ketika ada yang terjadi pada diri mereka. Misalnya ketika mereka tidur, kaki mereka digigit tikus tetapi mereka tidak akan bisa merasakan hal itu hingga kaki-kaki mereka membusuk.
Dan Paul Brand sangat berjuang untuk para penderita kusta bisa merasakan rasa sakit tersebut. Agar penderita kusta tahu jika kaki mereka digigit sehingga dapat menghindar.
Paul brand menyatakan dalam bukunya tersebut, agar kita bersyukur dapat merasakan rasa sakit. Dan disisi lain ia menggiring kita untuk menghilangkan rasa sakit tersebut.
Seperti Rev. Robert Salomon juga katakan, kita terluka agar dapat menyembuhkan yang terluka. Kita menerima rasa sakit. Agar kita tau rasanya sakit dan membantu mereka yg sakit. Karena kita tau bagaimana caranya menyembuhkan. Bukan karena kita dokter atau tenaga medis tetapi karena kita sudah pernah terluka.
Bersyukur untuk bisa merasakan sakit, berarti kita diberi kesempatan lagi belajar dan diberi kesempatan untuk menyembuhkan mereka yang pernah mengalami hal yang sama dengan kita. Bukankah itu sebuah karunia?
Dan rasa sakit juga perlu dihilangkan oleh Seorang penghilang rasa sakit yang kekal. Yesus sang Tabib Agung.
Belakangan ini jadi mikir-mikir, apa rasa sakit yang pernah saya alami. Dan akhirnya membentuk saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. :D
Mencintai seseorang merupakan sebuah anugerah. Dan Allahlah yang menaruhkan rasa sedemikian rupa tersebut untuk ada di dalam hati kita. Kepada siapapun yg sedang jatuh cinta. Ya... Mungkin aku juga tak luput, dari penglihatan Allah untuk urusan yang satu ini.
Dan ketika cinta hadir dengan segenap keindahannya, ternyata ia datang juga membawa rasa sakit.
Sakit ketika ternyata, cinta yang kita rasakan tak sama dengan yang dia rasakan.
Sakit ketika ternyata, cinta yang ada harus kita pendam dalam-dalam karena sebenarnya Tuhan tidak menginginkan kita bersamanya.
Sakit ketika ternyata, cinta harus ditahan untuk menunggu waktu yang tepat.
Saya pernah mengalami salah satu diantaranya ketiga alasan cinta itu bisa menjadi rasa sakit.
Dan saya sungguh bergumul waktu itu.
Ada beberapa hari saya kehilangan semangat, begitu mengetahui bahwa rasa yang saya rasakan ini tidak bisa diresponi.
Yahh... Bagi orang yang sedang jatuh cinta, hal tersebut rasanya seperti dunia kepengen runtuh. (Ini gak lebay!)
Kehilangan kemampuan untuk berpikir secara rasional. (Karena bagi wanita, perasaan sangat sangat dominan).
Ditengah kekalutan sedemikian rupa, saya tidak pergi kemana-mana untuk menyelesaikan ini.
Diam di dalam Dia.
Berdiam dan bertelut.
Karena kita tahu sekali bahwa hati bisa berubah dengan cepat ketika Ia bertindak bukan?
Bukankah perasaan itu Ia yg tumbuhkan? Berarti Ia dengan sangat gampang dapat pula meredakan perasaan tersebut.
Di dalam kediaman setiap hari untuk memahami jawaban Allah. Dengan begitu mulus tanpa saya ketahui caraNya... Ia malah membuat perasaan jatuh cintaku ini semakin semakin bertambah.
Aku jatuh cinta tambah dan dalamnya kepada Dia, Allah yang menciptakan cinta.
Tidak tau seperti apa perasaan itu, saya terkagum-kagum dan terpesona olehNya.
Segala bentuk karya dan perbuatanNya.
Yang ada bukan lagi kekalutan, bukan lagi kebingungan dan kegelisahan yang aneh, tapi yang ada rasa bahagia dan damai sejahtera.
Dan ketika itu terjadi, saya sampai kepada titik bahwa hal ini terjadi untuk mendatangkan kebaikan kepada saya.
Melalui hal ini, saya diajarkan bahwa Allah lah jawaban dari segala kegundahan.
Jika tidak mengalami rasa sakit ini, aku tidak mungkin memiliki pengalaman seindah ini bersama Tuhan.
Jika tidak bertemu dengan seseorang itu, tidak mungkin aku bisa jatuh cinta bertambah dalam dan dalam lagi kepadaNya.
Bukankah ini sebuah karunia?
Glory, oh Glory to the Lord!
Eittss... Maksudnya bukan berarti perasaan cinta kepada seseorang menjadi benar-benar hilang ya.
Bisa saja rasa itu masih ada, mungkin pun bertambah besar tapi sudah tidak menjadi suatu hal yang harus kita miliki.
Biarkan Allah yang bertindak melalui caraNya.
Bukankah Dia begitu punya banyak cara?
Saya rasa untuk satu hal ini kita tak perlu cemas Allah akan salah memilih.hihi
Malah Dia yg lebih mengetahui kita akan semakin maksimal ketika bersama siapa.
Semangat untuk terus berdoa :)
Rasa sakit yang membawa kebaikan juga pernah saya rasakan dalam bentuk cinta yang dalam kepada orangtua.
Sudah kira-kira dua bulan ini, ayah saya rutin untuk konsultasi kesehatannya.
Dua bulan yang lalu, ayah saya melakukan medical check-up dan hasilnya benar-benar menghancurkan hati saya.
Saya sharing kepada teman-teman yg berprofesi sebagai dokter dan juga memiliki keluarga yang mengalami hal yang sama seperti ayah saya.
Kata-kata yang saya (paling) ingat... "Persiapkan lah hatimu dek, untuk menerima hal yang terburuk sekalipun"
Kalimat itu membingungkan sekaligus menghancurkan.
Setelah mendengar kalimat itu, aku mulai merenungkan apa saja yang mungkin terjadi.
Saya benar-benar kehilangan semangat.
Setiap malam, kembali lagi terus berseru kepadaNya.
Ketakutan saya sungguh besar akan kehilangan seseorang yang disayang.
Ketakutan saya begitu mempengaruhi kualitas hidup saya.
Saya tidak bisa membayangkan akan kehilangan ayah.
Saya takut aku kehilangannya sebelum kami memastikan akan bersama-sama di sorga.
Dan di setiap doa-doa itu terselip air mata.
Saya tak siap kehilangannya.
Ditengah sedemikian amburadulnya perasaan. Seorang sahabat berkata demikian. "Satu-persatu orang yang kita kasihi akan meninggalkan kita, kita hanya tidak tau kapan, yang kita tau, kita harus siap kapanpun itu terjadi"
Yahh... Walau mau bagaimanapun, hidup harus terus berjalan. Dan di dalam proses berjalannya kehidupan, suatu saat kemungkinan kata siap itu muncul. Walau sampai kapanpun sepertinya kata itu sulit untuk diterima.
Dan hari ini ayah saya masih dalam keadaan sehat. Dan perasaan saya pun mulai berdamai. Bahwa ada banyak cara Tuhan membentuk kita anakNya ketika kita mau datang kepada Allah.
Dia rindu untuk kembali membakar perasaan kita untuk terus datang kepadaNya. Bergantung kepadaNya. Dia rindu, untuk kita mengingat bahwa ada keluarga yang harus kita layani. Secara spiritual maupun fisiknya.
Saya tidak tahu rencana Tuhan selanjutnya. Tapi saya tahu bahwa Dia akan memberikan kekuatan untuk menghadapi apapun ke depan.
Dan kepercayaan itu menguat.
Bukankah karunia ketika kita semakin mengenal Allah kita melalui rasa sakit ini?
Rasa sakit yang terakhir. (Ini benar yang terakhir!)
Ini baru saja saya rasakan.
Tidak tau apa sebenarnya yang memicu rasa sakit yang satu ini.
Tapi belakangan ini, benar-benar membuat saya kebingungan, gelisah gak karuan.
Bikin mewek terus-terusan. Siang dan malam.
Sangat lelah rasanya. Ingin berdiam diri saja. Diam dan hanya diam saja.
Mempertanyakan semua ini kepada Tuhan. Apa yang benar-benar Tuhan inginkan untuk dikerjakan melalui profesi saya.
Ya... Profesi sebagai dokter gigi.
Kalang kabut nggak ketulungan.
Setiap pagi pergi ke praktek dengan perasaan gundah. Dan berharap pasien tidak datang untuk berobat. Karena ketakutanku yang besar akan tanggungjawabku sebagai dokter gigi.
Setiap kali pasien datang, saya mengeluh walau hanya dalam hati.
Saya mencoba terus dan terus untuk mengubah cara berpikir dan paradigma saya.
Saya datang kepada Allah yang empunya sumber kuasa dan kemampuan.
Allah pemberi semangat dan pemberi keterampilan.
Terus-terus bergumul.
Dalam pergumulan, saya terus berusaha meningkatkan kualitas dan kepekaan saya.
Saya terus meminta pertolongan Tuhan untuk membantu memberikan yang terbaik kepada setiap pasien.
Saya terus bergumul, berseru, bertelut.
Ketika semangat baru saya mulai muncul, ada saja kembali hal-hal aneh yang menghancurkan hati saya lagi. Yang menurunkan mood saya lagi.
Dan saya mulai carut marut lagi.
Secara teori, saya mengerti harus bagaimana. Tapi untuk mengaplikasikan dan mengambil keputusan dalam setiap pertimbangan pasien-pasien, saya sangat buruk.
Dan saya berulang-ulang kali gagal.
Dan hal itu sangat menjatuhkan harga diri saya.
Dan hari ini, sepulang kamp medis alumni, saya banyak belajar. Saya banyak mengerti. Saya banyak ditegur. Saya banyak diingatkan.
Bahwa selama ini, doa-doa saya hanya berfokus kepada saya. Ya agar pasien mendapat yang terbaik tetapi bukan agar mereka mengenal siapa Allah yang kusembah, tapi agar saya puas dan pasienpun puas akan pelayanan gigi yang saya berikan.
Saya terus-terusan berdoa hanya agar mengejar kompetensi. Agar saya dipercaya sebagai dokter gigi yang berkompeten.
Tujuan itu tidak salah, yang salah adalah ketika tujuan demikian bukan karena Allah.
Bukan sebuah godly ambition.
Secara tidak sadar selama ini saya berfokus pada diri saya sendiri.
Selama ini saya tak membiarkan Tuhan bekerja. Saya tak mempercayai jika Tuhan bisa melakukan segala sesuatu bahkan mengerjakan pekerjaan sebagai dokter gigi.
Selama ini saya tidak mau bertanya apa maunya Tuhan hari ini. Apa yang menyenangkan Tuhan hari ini.
Selama ini saya berusaha untuk menjadi orang baik bagi pasien dan orang-orang di sekitar saya, untuk memenuhi kepuasan mereka. Bukan kepuasan Allah.
Mengikuti kamp medis ini mengasingkan saya dari rutinitas, menyegarkan kembali jiwa yang lelah. Menemukan jawaban-jawaban apa yang menjadi kegundahan saya.
Tuhan ajaib sekali dengan karyaNya.
Saya memang belum menemukan panggilan saya dengan jelas.
Kemana Tuhan inginkan saya pergi dan melayani.
Tapi saya percaya proses-proses ini. Rasa sakit ini.
Adalah jalan bagi Tuhan untuk akhirnya saya menemukan maunya Tuhan.
Kak Tadius bilang gini ke saya, "Kebingungan merupakan proses untuk menemukan panggilan kita. Tuhan tidak akan membuat kita terus kebingungan, asal kita terus mau bertanya, bertanya dan bertanya padaNya. Dia pasti akan menjawab kemana Ia mau kita pergi."
Intinya, tiap-tiap hari itu harus jaga keintiman dengan Tuhan. Tiap-tiap hari ini terus punya solitude dengan Tuhan.
Sehingga suara Tuhan dapat dengan jelas kita dengar.
Semoga suatu saat nanti bisa nulis panggilan yang akhirnya jelas dan mengerti mengapa kemaren Tuhan harus buat saya bingung bahkan membiarkan hati saya terus tak tenang.
Bukankah rasa sakit dan rasa lelah ini adalah sebuah karunia ? Bahwa saya akhirnya menemukan jiwa saya yang sempat mengeras.
Semoga melalui apa yang boleh saya bagikan ini, para pembaca yang mungkin sedang terluka, menemukan obat yang manjur akan rasa sakitnya.
Bahkan mendapatkan karunia dari rasa sakit yang anda alami.
" 'till Your Glory among the nations be proclaimed."

01.09
haspeni
0 komentar :
Posting Komentar